GoTerapis
Info Sehat
Info Sehat GoTerapis

7 Mitos Tukang Pijat yang Masih Banyak Dipercaya, Padahal Belum Tentu Benar

A

Admin GoTerapis

14 September 2026 • 6 menit baca

7 Mitos Tukang Pijat yang Masih Banyak Dipercaya, Padahal Belum Tentu Benar

Mitos tukang pijat ternyata masih banyak beredar di masyarakat. Mulai dari anggapan bahwa kemampuan pijat harus berasal dari keturunan, tukang pijat bisa mengetahui penyakit hanya dengan menyentuh tubuh, hingga keluhan tertentu dianggap berasal dari santet atau guna-guna.

Yang menarik, kepercayaan seperti ini bukan hanya ditemukan pada generasi terdahulu.

Di tengah mudahnya mendapatkan informasi kesehatan melalui internet, masih banyak anak muda, termasuk Gen Z, yang mempercayai berbagai mitos tentang tukang pijat dan pijat tradisional.

Padahal, jika dilihat secara sederhana, pijat adalah sebuah keterampilan.

Kemampuan seorang terapis pijat profesional dapat diperoleh melalui belajar, latihan, pengalaman, pemahaman tubuh, serta kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan.

Jadi, mana yang fakta dan mana yang sekadar cerita turun-temurun?

Berikut beberapa mitos tukang pijat yang masih sering kita dengar.

1. Tukang Pijat Harus Berasal dari Keturunan Tukang Pijat

Salah satu mitos paling populer adalah anggapan bahwa kemampuan menjadi tukang pijat merupakan ilmu keturunan.

Kita sering mendengar kalimat seperti:

“Memang keluarganya dari dulu tukang pijat.”

atau:

“Tangannya sudah ada bakat dari lahir.”

Memiliki orang tua atau keluarga yang bekerja sebagai terapis pijat tentu bisa memberikan keuntungan.

Sejak kecil seseorang mungkin sudah sering melihat bagaimana orang tuanya memijat, berinteraksi dengan pelanggan, atau mempelajari berbagai teknik pijat.

Tetapi bukan berarti kemampuan tersebut otomatis diwariskan melalui darah.

Coba kita bandingkan dengan profesi lain.

Seorang ayah bekerja sebagai guru kemudian anaknya juga menjadi guru. Apakah kemampuan mengajar anak tersebut diperoleh karena “ilmu keturunan”?

Tentu tidak.

Kemungkinan besar ia tumbuh dekat dengan dunia pendidikan, mendapatkan banyak pengalaman, kemudian mempelajari profesi tersebut.

Begitu juga dengan tukang pijat.

Seseorang yang tidak memiliki keluarga tukang pijat tetap bisa menjadi terapis pijat yang baik selama mau belajar, berlatih, dan memahami teknik pijat dengan benar.

Kemampuan pijat adalah keterampilan yang dapat dipelajari, bukan kemampuan mistis yang hanya dimiliki keluarga tertentu.

2. Tukang Pijat Bisa Mengetahui Penyakit Hanya dengan Memijat

Mitos berikutnya juga cukup sering ditemui.

Baru beberapa menit dipijat, tiba-tiba muncul kesimpulan:

“Ini lambungnya.”

“Ini kolesterol.”

“Ini ginjalnya.”

“Ini saraf kejepit.”

Bahkan terkadang kesimpulan diberikan hanya karena bagian tubuh tertentu terasa keras atau sakit ketika ditekan.

Padahal menentukan penyakit atau diagnosis medis bukan tugas tukang pijat.

Keluhan yang terlihat sama dapat mempunyai penyebab yang berbeda.

Misalnya seseorang mengeluhkan sakit punggung.

Bisa saja penyebabnya adalah otot tegang karena terlalu lama duduk atau aktivitas fisik. Namun dalam kondisi tertentu, sakit punggung juga dapat berhubungan dengan masalah kesehatan lain yang membutuhkan pemeriksaan tenaga medis.

Karena itu, terapis yang profesional sebaiknya tidak sembarangan memberikan diagnosis.

Terapis dapat mengatakan:

“Bagian ini terasa cukup tegang.”

atau:

“Kalau sakitnya terus berulang, sebaiknya diperiksakan.”

Itu jauh lebih bertanggung jawab dibanding menebak penyakit pelanggan.

3. Tukang Pijat Bisa Mengetahui Seseorang Terkena Santet atau Sihir

Ini termasuk mitos tukang pijat yang cukup sensitif tetapi masih sering ditemukan.

Ketika seseorang mengalami sakit yang tidak kunjung membaik, terkadang muncul pernyataan seperti:

“Ini bukan sakit biasa.”

“Sepertinya ada yang kirim.”

atau:

“Ini kena guna-guna.”

Kepercayaan terhadap hal-hal tertentu tentu menjadi urusan pribadi masing-masing orang.

Namun dalam konteks pelayanan pijat, seorang terapis sebaiknya tidak membuat kesimpulan yang berada di luar kompetensinya.

Apalagi jika klaim tersebut menyebabkan pelanggan takut dan akhirnya mengabaikan pemeriksaan kesehatan yang sebenarnya dibutuhkan.

Jika seorang pelanggan mempunyai keluhan yang terus-menerus, semakin berat, atau tidak biasa, tindakan paling bertanggung jawab adalah menyarankannya mencari pemeriksaan medis.

Menjadi tukang pijat yang bagus tidak berarti harus bisa menjadi paranormal.

4. Semakin Sakit Dipijat, Berarti Pijatannya Semakin Bagus

Ada anggapan bahwa pijatan yang bagus harus terasa sangat sakit.

Bahkan ada yang bangga setelah dipijat sampai tubuhnya terasa seperti habis “digebukin”.

Kemudian muncul kalimat klasik:

“Kalau sakit berarti kena.”

Padahal rasa sakit bukan ukuran utama kualitas pijat.

Pada beberapa teknik pijat memang digunakan tekanan tertentu. Tetapi tingkat tekanan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, teknik yang digunakan, dan kenyamanan pelanggan.

Pijat terlalu keras tidak selalu lebih efektif.

Terapis pijat profesional justru harus mampu mengatur tekanan dan berkomunikasi dengan pelanggan selama proses pijat berlangsung.

Tujuannya bukan membuat pelanggan kesakitan.

Tujuannya adalah memberikan layanan pijat yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh pelanggan.

5. Tukang Pijat Bisa Menyembuhkan Semua Penyakit

Apakah pijat bisa membantu tubuh terasa lebih nyaman?

Tentu bisa dalam kondisi yang sesuai.

Pijat sering digunakan untuk membantu relaksasi, mengurangi ketegangan otot, dan membuat tubuh terasa lebih nyaman setelah aktivitas tertentu.

Tetapi bukan berarti pijat dapat menyembuhkan semua penyakit.

Tidak ada satu metode terapi yang cocok untuk semua kondisi.

Ada keluhan yang mungkin terbantu dengan pijat.

Ada kondisi yang sebaiknya diperiksa terlebih dahulu.

Dan ada pula kondisi tertentu yang justru tidak boleh sembarangan dipijat.

Karena itu, berhati-hatilah terhadap klaim seperti:

“Semua penyakit bisa sembuh dengan pijat.”

Terapis yang profesional justru memahami batas antara pijat dan tindakan medis.

6. Tukang Pijat Senior Pasti Lebih Bagus daripada Terapis Muda

Pengalaman tentu merupakan salah satu hal penting dalam profesi pijat.

Seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi tukang pijat kemungkinan sudah menangani banyak pelanggan dengan berbagai kebutuhan.

Namun pengalaman bukan satu-satunya ukuran kualitas.

Saat ini banyak terapis pijat muda yang mulai mempelajari teknik pijat dengan lebih terstruktur.

Mereka belajar mengenai teknik pijat, kebersihan, komunikasi pelanggan, pelayanan profesional hingga pemahaman dasar mengenai kondisi tubuh.

Sebaliknya, pengalaman puluhan tahun juga akan jauh lebih bernilai jika seseorang tetap mau belajar.

Jadi jangan hanya bertanya:

“Sudah berapa tahun menjadi tukang pijat?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana cara terapis tersebut bekerja dan melayani pelanggan?”

7. Tukang Pijat yang Tidak Bisa Menebak Penyakit Berarti Kurang Pintar

Ini justru terbalik.

Terapis yang baik tidak harus mempunyai jawaban untuk semua keluhan pelanggan.

Ada perbedaan antara tidak tahu dan mengetahui batas kompetensi.

Bayangkan pelanggan bertanya:

“Menurut Mas, sakit saya ini penyakit apa?”

Terapis yang bertanggung jawab bisa menjawab:

“Saya tidak bisa memastikan penyakitnya. Kalau keluhannya terus berlanjut sebaiknya diperiksakan terlebih dahulu.”

Mungkin jawaban tersebut tidak terdengar sehebat:

“Ini sarafnya.”

“Ini ginjalnya.”

atau:

“Ini ada yang mengirim.”

Tetapi justru jawaban pertama menunjukkan bahwa terapis memahami batas profesinya.

Dan bagi pelanggan, hal seperti ini seharusnya menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih terapis pijat yang aman dan profesional.

Bagaimana Cara Memilih Tukang Pijat atau Terapis Pijat yang Baik?

Daripada mencari tukang pijat yang mengaku mempunyai kemampuan supranatural, lebih baik perhatikan hal-hal yang benar-benar bisa dinilai.

Terapis pijat yang baik biasanya:

  • menjaga kebersihan diri dan peralatan;
  • berkomunikasi dengan baik sebelum melakukan pijat;
  • menanyakan keluhan dan kebutuhan pelanggan;
  • tidak sembarangan memberikan diagnosis penyakit;
  • menyesuaikan tekanan pijat dengan kondisi pelanggan;
  • menghormati batas pribadi pelanggan;
  • tidak memberikan klaim kesembuhan berlebihan;
  • bersedia menyarankan pemeriksaan medis apabila menemukan kondisi yang berada di luar kemampuannya.

Hal-hal seperti inilah yang lebih relevan ketika mencari jasa pijat profesional.

Tukang Pijat Adalah Profesi, Bukan Profesi Mistis

Sudah waktunya masyarakat melihat profesi tukang pijat dengan cara yang lebih modern.

Tukang pijat tidak perlu mempunyai cerita mistis agar dianggap hebat.

Seorang terapis justru bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan karena teknik pijatnya baik, pelayanannya profesional, komunikasinya nyaman, menjaga kebersihan, dan memahami batas kemampuannya.

Dengan cara pandang seperti ini, profesi pijat juga bisa berkembang menjadi profesi yang semakin dihargai masyarakat.

Terapis tidak perlu mengatakan bahwa dirinya bisa mengetahui semua penyakit.

Tidak perlu menghubungkan setiap keluhan dengan santet.

Tidak perlu pula mengaku memperoleh kemampuan khusus dari keturunan.

Kualitas seorang terapis seharusnya dinilai dari keterampilan dan profesionalismenya.

Cari Terapis Pijat Profesional Lebih Mudah melalui https://goterapis.com/

Bagi pelanggan, menemukan terapis yang sesuai kebutuhan seharusnya tidak perlu rumit.

Melalui https://goterapis.com/, pelanggan dapat mencari terapis dan layanan pijat sesuai kebutuhan serta lokasi yang tersedia.

GoTerapis juga ingin ikut mendorong perkembangan profesi terapis di Indonesia agar semakin profesional, transparan, dan dipercaya masyarakat.

Karena pada akhirnya, terapis terbaik bukanlah terapis yang paling pandai menebak penyakit atau memiliki cerita paling ajaib.

Terapis yang baik adalah terapis yang mempunyai keterampilan, memberikan pelayanan dengan profesional, dan memahami batas kemampuannya.

A

Ditulis oleh

Admin GoTerapis

Baca juga