GoTerapis
Info Sehat
Info Sehat GoTerapis

Di Balik Viralnya Terapi Kretek/Chiropractic: Bunyi Bukan Berarti Sembuh

Terapi kretek atau chiropractic viral di media sosial karena dianggap memberi kelegaan instan. Namun, apakah bunyi kretek berarti tubuh sudah sembuh? Kenali manfaat, risiko, dan pentingnya memilih terapis yang tepat.

A

Admin GoTerapis

09 September 2026 • 7 menit baca

Di Balik Viralnya Terapi Kretek/Chiropractic: Bunyi Bukan Berarti Sembuh

“Krek!”

Dalam hitungan detik, video memperlihatkan seseorang yang sebelumnya mengeluh sakit pinggang atau leher kemudian tersenyum, berdiri, dan merasa tubuhnya jauh lebih ringan.

Konten seperti ini sangat mudah ditemukan di TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform media sosial lainnya. Tidak sedikit yang mendapatkan ratusan ribu hingga jutaan penayangan.

Akibatnya, terapi kretek, manipulasi sendi, atau terapi yang sering dikaitkan masyarakat dengan chiropractic menjadi semakin populer.

Masalahnya, video berdurasi beberapa detik dapat membuat sebuah tindakan terapi terlihat jauh lebih sederhana daripada kenyataannya.

Seolah-olah:

Datang sakit → dikretek → bunyi → langsung sembuh.

Padahal tubuh manusia tidak sesederhana itu.

Bunyi “Kretek” Bukan Bukti Tulang Kembali ke Tempatnya

Salah satu hal yang membuat terapi kretek menarik untuk ditonton adalah suara yang dihasilkan ketika persendian dimanipulasi.

Suara tersebut sering menimbulkan persepsi bahwa tulang yang sebelumnya “bergeser” telah berhasil dikembalikan ke posisi semula.

Padahal, bunyi pada persendian bukanlah bukti bahwa tulang telah kembali ke posisi yang benar ataupun bahwa penyakit telah sembuh.

Suara pop atau crack pada persendian dapat berkaitan dengan perubahan tekanan dan gas di dalam cairan sendi serta pergerakan struktur di sekitar sendi. Harvard Health juga menjelaskan bahwa suara popping tidak berarti sebuah sendi sedang “dikembalikan ke tempatnya”.

Artinya, keras atau banyaknya bunyi bukan ukuran keberhasilan sebuah terapi.

Seseorang bahkan dapat mengalami bunyi pada sendi tanpa memiliki masalah kesehatan tertentu.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menilai kualitas sebuah terapi hanya berdasarkan:

  • seberapa keras suara “kretek” yang terdengar,
  • seberapa dramatis gerakannya,
  • reaksi pasien setelah terapi,
  • jumlah penonton videonya,
  • atau seberapa viral terapis tersebut di media sosial.

Viral bukan sertifikasi. Bunyi juga bukan diagnosis.

Apa yang Tidak Terlihat di Dalam Video?

Video terapi di media sosial umumnya hanya memperlihatkan bagian yang menarik untuk ditonton.

Kita melihat seseorang datang, tubuhnya dimanipulasi, terdengar beberapa bunyi, kemudian orang tersebut mengatakan tubuhnya terasa lebih ringan.

Namun ada banyak hal yang belum tentu terlihat dalam video.

Apakah sebelumnya dilakukan pemeriksaan?

Apakah terapis mengetahui riwayat penyakit pasien?

Apakah pasien memiliki riwayat cedera?

Apakah ada osteoporosis, patah tulang, masalah saraf, gangguan pembuluh darah, atau kondisi lain yang membuat manipulasi tertentu tidak dianjurkan?

Apakah teknik yang dilakukan memang sesuai dengan keluhan pasien?

Dan yang tidak kalah penting:

Apa yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari setelah video tersebut selesai direkam?

Inilah alasan kesehatan tidak seharusnya dinilai hanya dari potongan konten beberapa detik.

Setiap Terapis Memiliki Kompetensi yang Berbeda

Sama seperti profesi lainnya, kemampuan seorang terapis tidak bisa disamaratakan.

Ada terapis yang memiliki pengalaman panjang pada pijat tradisional.

Ada yang mendalami sport massage.

Ada yang memiliki kompetensi pada terapi otot tertentu.

Ada pula tenaga profesional yang memang mendapatkan pendidikan atau pelatihan khusus mengenai sistem muskuloskeletal dan teknik manipulasi.

Karena itu, seorang terapis yang sangat baik dalam satu jenis terapi belum tentu memiliki kompetensi yang sama untuk melakukan teknik lain.

Terutama jika tindakan tersebut melibatkan leher, tulang belakang, sendi, atau struktur yang berdekatan dengan sistem saraf.

Teknik manipulasi tulang belakang sendiri merupakan tindakan yang menggunakan dorongan terkontrol pada sendi tulang belakang. Dalam praktik profesional, pemilihan teknik seharusnya mempertimbangkan kondisi pasien dan dilakukan oleh praktisi yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.

Ketika Media Sosial Menjadi “Tempat Belajar Terapi”

Inilah salah satu dampak lain dari viralnya terapi kretek.

Ketika sebuah teknik terlihat mudah dilakukan, orang lain dapat terdorong untuk menirunya.

Menonton puluhan atau bahkan ratusan video mungkin membuat seseorang memahami bagaimana sebuah gerakan terlihat dilakukan.

Tetapi melihat gerakan tidak sama dengan memahami tubuh manusia.

Video tidak mengajarkan secara utuh mengenai anatomi, fisiologi, kontraindikasi, pemeriksaan pasien, pemilihan teknik, penanganan komplikasi, hingga kapan sebuah tindakan justru tidak boleh dilakukan.

Sederhananya:

Media sosial dapat menjadi tempat mendapatkan informasi, tetapi tidak bisa menggantikan pendidikan dan pelatihan profesional.

Seseorang mungkin dapat meniru posisi tangan dari sebuah video.

Namun pertanyaan sebenarnya adalah:

Apakah ia tahu kapan gerakan tersebut tidak boleh dilakukan?

Justru kemampuan untuk mengatakan “kondisi ini tidak boleh saya tangani” merupakan salah satu bagian penting dari profesionalisme seorang terapis.

Apakah Terapi Kretek Berbahaya?

Tidak tepat jika mengatakan bahwa setiap manipulasi persendian atau tulang belakang pasti berbahaya.

Sebaliknya, juga tidak tepat jika menganggapnya selalu aman untuk semua orang.

Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), efek setelah manipulasi tulang belakang yang relatif umum antara lain rasa tidak nyaman, kaku, sakit kepala, atau peningkatan rasa sakit sementara. Biasanya keluhan tersebut bersifat sementara.

Komplikasi serius pada tulang belakang, sistem saraf, atau pembuluh darah leher juga pernah dilaporkan, tetapi tergolong sangat jarang dan angka kejadiannya sulit dipastikan secara tepat. Risiko dapat lebih tinggi pada orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Kementerian Kesehatan RI melalui artikel Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan juga mengingatkan bahwa manipulasi chiropractic memiliki risiko dan tidak cocok untuk semua kondisi. Masyarakat dianjurkan mempertimbangkan konsultasi medis terlebih dahulu, terutama bila memiliki masalah kesehatan tertentu.

Jadi persoalannya bukan sekadar:

“Terapi kretek aman atau berbahaya?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Dilakukan kepada siapa, untuk kondisi apa, dengan teknik apa, dan oleh siapa?

Keluhan Bisa Saja Bertambah Setelah Manipulasi yang Tidak Tepat

Ada orang yang mencari terapi karena mengalami nyeri pinggang, sakit leher, kesemutan, atau dugaan saraf terjepit.

Pada kondisi seperti ini, penyebab keluhan dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Karena itu, melakukan manipulasi tanpa memahami kondisi yang mendasarinya dapat menimbulkan risiko.

NCCIH mencatat bahwa masalah neurologis serius dan beberapa komplikasi tulang belakang pernah dilaporkan setelah manipulasi, meskipun kejadian serius tersebut jarang dan hubungan sebab-akibat pada setiap kasus tidak selalu dapat dipastikan.

Hal ini menjadi alasan mengapa pemeriksaan kondisi pasien jauh lebih penting daripada sekadar mengejar suara “kretek”.

Jika seseorang sudah memiliki gangguan tertentu, tindakan yang salah atau terlalu agresif berpotensi memperburuk keluhan.

Demikian pula seseorang yang sebelumnya merasa sehat sebaiknya tidak melakukan manipulasi ekstrem hanya karena penasaran setelah melihat konten viral.

Tubuh bukan tempat mencoba tren.

Jangan Memilih Terapis Hanya Karena Viral

Media sosial dapat membantu masyarakat menemukan banyak praktisi dan terapis yang sebelumnya tidak dikenal.

Namun popularitas seharusnya menjadi pintu untuk mencari informasi lebih lanjut, bukan menjadi satu-satunya alasan mempercayakan tubuh kepada seseorang.

Sebelum menjalani terapi, tidak ada salahnya bertanya:

1. Apa latar belakang terapis tersebut?
Cari tahu pendidikan, pelatihan, sertifikasi, atau pengalaman yang relevan dengan terapi yang dilakukan.

2. Apakah terapi langsung dilakukan tanpa pemeriksaan?
Terapis yang bertanggung jawab seharusnya berusaha memahami keluhan dan kondisi pasien terlebih dahulu.

3. Apakah terapis berani menolak kondisi di luar kompetensinya?
Seorang profesional tidak harus menangani semua pasien.

4. Apakah ada janji penyembuhan instan?
Waspadai klaim berlebihan seperti satu kali tindakan pasti menyembuhkan semua jenis nyeri atau masalah tulang belakang.

5. Apakah Anda memiliki riwayat penyakit tertentu?
Sampaikan riwayat cedera, operasi, penyakit tulang, obat-obatan yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan lainnya secara jujur.

6. Apakah keluhan Anda sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis?
Beberapa kondisi memang sebaiknya diperiksa tenaga medis terlebih dahulu sebelum menjalani terapi manual.

Terapis yang Baik Tidak Selalu Melakukan Tindakan yang Paling Ekstrem

Ada anggapan bahwa semakin keras sebuah terapi, semakin ampuh hasilnya.

Padahal terapi yang baik bukan kompetisi menghasilkan bunyi paling keras atau gerakan paling dramatis.

Dalam kondisi tertentu, pendekatan yang lebih ringan justru lebih sesuai.

Terapis yang memahami batas kompetensinya juga seharusnya mampu menjelaskan kepada pasien:

  • apa yang akan dilakukan,
  • mengapa teknik tersebut dipilih,
  • apa manfaat yang diharapkan,
  • risiko yang mungkin terjadi,
  • dan kapan pasien perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Pasien berhak mendapatkan penjelasan tersebut.

Kesehatan Terlalu Berharga untuk Dipertaruhkan demi Tren

Kita sering mengatakan:

“Kesehatan itu mahal.”

Namun sebenarnya ada sesuatu yang lebih penting daripada mahalnya biaya pengobatan.

Ada kondisi kesehatan tertentu yang ketika sudah mengalami kerusakan serius, uang belum tentu dapat mengembalikannya seperti semula.

Karena itu, jangan mempertaruhkan kesehatan hanya karena sebuah terapi sedang viral.

Jangan pula memilih seseorang hanya karena memiliki banyak pengikut atau mendapatkan rekomendasi dari orang lain.

Rekomendasi tetap berguna.

Popularitas juga tidak selalu berarti buruk.

Tetapi keduanya perlu dilengkapi dengan sesuatu yang jauh lebih penting:

kompetensi, pengalaman, transparansi, dan kesesuaian terapi dengan kondisi pasien.

GoTerapis Membantu Anda Menemukan Terapis dengan Lebih Aman dan Nyaman

GoTerapis hadir bukan sekadar untuk mempertemukan pelanggan dengan terapis.

Kami memahami bahwa ketika seseorang memesan layanan terapi, ia sedang mempercayakan sesuatu yang sangat berharga: tubuh dan kesehatannya.

Karena itu, terapis yang tersedia di GoTerapis.com melalui proses seleksi internal oleh tim GoTerapis sebelum dapat menawarkan layanan melalui platform.

Setiap terapis tentu memiliki bidang, pengalaman, dan tingkat keterampilan yang berbeda. Proses seleksi juga bukan berarti sebuah terapi dapat dijamin bebas risiko untuk setiap kondisi.

Namun kami ingin membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai terapis dengan lebih jelas dan memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Karena bagi GoTerapis:

Terapis tidak harus viral untuk bisa dipercaya.

Yang lebih penting adalah kompetensi, tanggung jawab, serta memberikan layanan dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan pelanggan.

Cari Terapis Sesuai Kebutuhan Anda

Butuh pijat, sport massage, bekam, terapi kebugaran, atau layanan terapi lainnya?

Temukan terapis yang sesuai dengan kebutuhan dan lokasi Anda melalui GoTerapis.com.

Pilih berdasarkan kebutuhan dan kompetensi — bukan sekadar karena sedang viral.

A

Ditulis oleh

Admin GoTerapis

Baca juga